1. It’s only after we’ve lost everything that we are free to do anything.
Hanya jika kita kehilangan segalanya, kita dapat bebas melakukan segalanya.

2. Losing all hope is freedom.
Kehllangan seluruh harapan adalah kebebasan.

3. You are not your job. You’re not how much money you have. You’re not the car you drive. You’re not your fucking khakis. You’re the all-singing, all-dancing crap of the world.
Siapa sebenarnya dirimu bukan soal apa pekerjaanmu, bukan soal duit atau mobilmu. Kalian cuma seonggok ta*i yang ada di dunia ini.

4. We buy things we don’t need, with money we don’t have, to impress people we don’t like.
Kita membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang tidak kita miliki, hanya untuk menyenangkan orang-orang kayak ta*i.

5. The things you own, end up owning you.
Semua yang kau miliki hanya akan mengekang dirimu sendiri.

6. Listen up, maggots. You are not special. You are not beautiful or unique snowflake. You’re the same decaying organic matter as everything else.
Dengarlah, ta*i. Kamu itu enggak cantik. Sama saja akan menjadi belatung seperti yang lain.

7. We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars, but we won’t. And we’re slowly learning that fact. And we’re very, very pissed off.
Kita semua dibesarkan oleh televisi yang menjanjikan kita bahwa suatu saat kita akan menjadi aktor terkenal, bintang rock, dan kaya-raya, tapi akhirnya kita sadar semua itu cuma ta*i.

8. If you feel like shit, everyone you hate wins.
Saat kau merasa dirimu ta*i, itulah yang diinginkan orang-orang yang kau benci.

9. Fight club wasn’t about winning or losing. It wasn’t about words. The hysterical shouting was in tongues, like at a Pentecostal Church.
Klub Pertarungan ini bukan soal menang atau kalah. Bukan pula soal kata-kata. Melainkan teriakan-teriakan histeris ala Gereja Pantekosta.

10. We’re the middle children of history, Man. We have no Great War, no Great Depression. Our great war is a spiritual war. Our great depression is our lives.
Kita ini anak-anak sejarah, Bung. Meski Perang Dunia telah berlalu, Depresi Besar telah berlalu. Tetapi kita tengah menghadapi perang rohani saat ini, di mana depresi terbesar kita adalah hidup kita sendiri. (*/Msl)