10 Pelajaran Berharga dalam Film The Shawshank Redemption — 13 Februari 2020
10 Kutipan Kerad ala Tyler Durden dalam Fight Club —

10 Kutipan Kerad ala Tyler Durden dalam Fight Club

1. It’s only after we’ve lost everything that we are free to do anything.
Hanya jika kita kehilangan segalanya, kita dapat bebas melakukan segalanya.

2. Losing all hope is freedom.
Kehllangan seluruh harapan adalah kebebasan.

3. You are not your job. You’re not how much money you have. You’re not the car you drive. You’re not your fucking khakis. You’re the all-singing, all-dancing crap of the world.
Siapa sebenarnya dirimu bukan soal apa pekerjaanmu, bukan soal duit atau mobilmu. Kalian cuma seonggok ta*i yang ada di dunia ini.

4. We buy things we don’t need, with money we don’t have, to impress people we don’t like.
Kita membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang tidak kita miliki, hanya untuk menyenangkan orang-orang kayak ta*i.

5. The things you own, end up owning you.
Semua yang kau miliki hanya akan mengekang dirimu sendiri.

6. Listen up, maggots. You are not special. You are not beautiful or unique snowflake. You’re the same decaying organic matter as everything else.
Dengarlah, ta*i. Kamu itu enggak cantik. Sama saja akan menjadi belatung seperti yang lain.

7. We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars, but we won’t. And we’re slowly learning that fact. And we’re very, very pissed off.
Kita semua dibesarkan oleh televisi yang menjanjikan kita bahwa suatu saat kita akan menjadi aktor terkenal, bintang rock, dan kaya-raya, tapi akhirnya kita sadar semua itu cuma ta*i.

8. If you feel like shit, everyone you hate wins.
Saat kau merasa dirimu ta*i, itulah yang diinginkan orang-orang yang kau benci.

9. Fight club wasn’t about winning or losing. It wasn’t about words. The hysterical shouting was in tongues, like at a Pentecostal Church.
Klub Pertarungan ini bukan soal menang atau kalah. Bukan pula soal kata-kata. Melainkan teriakan-teriakan histeris ala Gereja Pantekosta.

10. We’re the middle children of history, Man. We have no Great War, no Great Depression. Our great war is a spiritual war. Our great depression is our lives.
Kita ini anak-anak sejarah, Bung. Meski Perang Dunia telah berlalu, Depresi Besar telah berlalu. Tetapi kita tengah menghadapi perang rohani saat ini, di mana depresi terbesar kita adalah hidup kita sendiri. (*/Msl)

10 Drama Hollywood Terbaik dari Captain Fantastic, Good Will Hunting, hingga We Bought a Zoo — 12 Februari 2020

10 Drama Hollywood Terbaik dari Captain Fantastic, Good Will Hunting, hingga We Bought a Zoo

1. Captain Fantastic (2016/7.9)

Captain Fantastic menceritakan seorang ayah bernama Ben (Viggo Mortensen) yang mendidik keenam anaknya, yakni Bodevan, Kielyr, Vespyr, Rellian, Zaja, dan Nai, dengan mengisolasi diri dari kehidupan modern. Ben mengajari anak-anaknya cara bertahan hidup di hutan, seperti berburu, bercocok tanam, dan berolahraga.

Ben dan isterinya, Leslie—yang dikisahkan sakit dan meninggal di kota—menganggap dunia luar tidak cukup baik bagi perkembangan anak. Mereka sepakat mendidik anak-anak dengan home schooling. Ben lalu membawa anak-anaknya ke kota untuk pertama kali demi mencari tahu keadaan ibu mereka yang tak kunjung kembali.

Film ini banyak menyuguhkan narasi-narasi sosialisme, antara lain tergambar pada adegan saat keluarga Ben dan anak-anaknya memperingati kelahiran tokoh Sosialisme, Noam Chomsky, dan melakukan misi “pembebasan makanan” yang tak lain merupakan aksi pencurian di supermarket sebagai lambang kapitalisme.

Di tengah tekanan dan gagap akan kehidupan dunia luar, Ben mulai menyangsikan dirinya sendiri. Ia mengalah pada dunia dan “mengembalikan” anak-anak di mana “seharusnya mereka berada”. Meski demikian, keluarga ini tetap kompak melakukan misi utama mereka, yaitu membawa jasad Leslie untuk dikremasi dan membuang abunya ke toilet!

2. Good Will Hunting (1997/8.3)

Will Hunting (Matt Damon) adalah remaja yatim piatu yang luar biasa cerdas. Ia senang membaca buku dan mempelajari banyak hal secara otodidak. Baginya, untuk menjadi pandai tidak harus belajar di sekolah formal. Hanya dengan berkunjung ke perpustakaan, misalnya, orang bisa memperoleh ilmu baru.

Kecerdasan Will dapat dibuktikan ketika ia mengerjakan soal Matematika yang tertera di dinding lorong kampus tempatnya bekerja sebagai cleaning service. Soal tersebut dibuat oleh Prof. Gerald Lambeau (Stellan Skarsgård) yang ditujukan kepada para mahasiswa, tetapi tak seorang pun mampu menyelesaikannya kecuali Will.

Suatu ketika, Will terlibat perkelahian dan membuatnya dipenjara. Prof. Lambeau yang tak ingin menyia-nyiakan kecerdasan Will, datang untuk membantu, namun dengan beberapa syarat. Will harus mengikuti ‘les’ dan sesi konseling bersama Sean Maguire (Robbin William), psikolog baik hati yang mengubah hidup Will selamanya.

3. Fences (2016/7.2)

Troy dan Rose Maxson (Denzel Washington dan Viola Davis) adalah pasangan suami-isteri Afrika-Amerika yang tinggal di Pittsburgh, tahun 1950-an bersama putra mereka, Cory (Jovan Adepo) serta Gabe (Mykelti Williamson), adik Troy yang mengalami gangguan mental akibat cedera kepala saat Perang Dunia II.

Troy sebetulnya adalah pemain bisbol berbakat, namun ia tidak pernah masuk ke liga utama, karena mereka tak memberi tempat untuk orang kulit hitam. Karenanya Troy kini bekerja sebagai pengangkut sampah. Film ini ber-setting hanya di satu tempat, yaitu di rumah Troy, dan menjadi kelebihan tersendiri dari film ini.

4. Light Between Ocean (2016/7.2)

Berlatar tahun 1920-an, Michael Fassbender berperan sebagai Tom Sherbourne, seorang veteran yang bekerja sebagai penjaga mercusuar di sebuah pulau bernama Janus Rock, ditemani sang isteri, Isabel Graysmark (Alicia Vikander). Kebahagiaan mereka harus diuji dengan dua kali kehamilan Isabel yang berakhir keguguran.

Suatu hari, sebuah perahu kecil terdampar di Janus. Perahu tersebut membawa seorang laki-laki yang telah meninggal serta bayi perempuan mungil yang masih hidup. Isabel merasa Tuhan mengirim bayi itu untuk mereka. Tom berada dalam dilema antara menuruti keinginan istri atau integritas pekerjaan. Keputusan yang diambil Tom kelak membawa mereka pada kenyataan pahit tak terduga.

5. Life of Pi (2012/7.9)

Piscine “Pi” Molitor Patel dibesarkan dalam keluarga Hindu di Pondichery, kolonial Perancis. Pi kecil yang juga mengenal agama Katolik dan Islam, memutuskan untuk menjalani ketiga agama tersebut sekaligus, karena keluguannya. Ayah Pi, pemilik kebun binatang, adalah seorang sekuler, sedangkan ibunya konservatif Hindu.

Pencarian Tuhan berlanjut ke masa remaja ketika kapal yang membawa keluarga Pi dan semua binatang mereka dihantam badai di Samudera Pasifik dalam perjalanan ke Kanada, menyisakan korban selamat Pi yang bertahan hidup di atas sekoci bersama Richard Parker—seekor harimau Benggala yang siap memangsanya kapan saja.

6. Hacksaw Ridge (2016/8.2)

Desmond Doss (Andrew Garfield) adalah seorang tentara yang dipersiapkan untuk berperang. Namun sebagai pemeluk Kristen Advent, serta trauma masa kecil karena nyaris membunuh adiknya, ia menolak untuk memegang senjata. Hal ini membuat dirinya dianggap sinting di Angkatan Darat dan ditekan dengan berbagai cara.

Pada Pertempuran Okinawa, tahun 1945, regu Desmond ditugaskan di Tebing Maeda (Hacksaw Ridge). Setelah berhasil menyelamatkan 75 tentara Amerika, Desmond dianugerahi Medali Kehormatan oleh Presiden Harry S. Truman. Diangkat dari kisah nyata, film arahan Mel Gibson ini meraih 2 Oscar untuk editing dan tata suara.

7. The Book of Henry (2017/6.5)

Henry (Jaeden Lieberher) adalah anak berusia 11 tahun yang luar biasa jenius. Ia tinggal bersama seorang ibu, Susan (Naomi Watts) dan adiknya, Peter (Jacob Tremblay). Suatu hari, Henry menyaksikan teman sekaligus tetangganya, Christina, mendapat perlakuan kasar dari ayah tirinya yang seorang komisaris polisi.

Setelah pengaduannya pada kepala sekolah dan dinas sosial berakhir sia-sia, Henry memutuskan untuk merancang sebuah siasat yang ia catat dalam diary-nya. Siasat tersebut akan dilakukan ibunya, setelah Henry meninggal karena penyakitnya. Susan pun mengikuti panduan yang dibuat Henry dan mengarahkannya pada rencana pembunuhan.

8. Spotlight (2015/8.1)

Setelah diakuisisi media besar pada 2001, harian The Boston Globe merekrut Marty Baron (Liev Schreiber) sebagai editor baru mereka. Marty lantas membentuk sebuah tim untuk rubrik investigasi Spotlight, yang kali ini bertugas mengusut kasus pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan seorang pastor bernama John Geoghan.

Tim ini terdiri dari Walter ‘Robby’ Robinson, Michael Rezendez, Sacha Pfeiffer, Matt Carroll, dan Ben Bradlee Jr—diperankan Michael Keaton, Mark Ruffalo, Rachel McAdams, Brian d’Arcy James, serta John Slattery—yang secara ironis merupakan putra-putri Boston, beragama Katolik pula. Lain dengan Marty, editor mereka yang berasal dari Miami.

Dalam investigasi tersebut, rupanya Kardinal mengetahui kasus yang melibatkan sang pastor. Hal ini membuat penyidikan terus berlanjut. Dari 13 nama pastor yang terindikasi, berkembang menjadi 90 orang. Puncaknya, 6 Januari 2002, The Boston Globe menurunkan headline, “Gereja Membiarkan Pelecehan yang Dilakukan Pastur Selama Bertahun-tahun!”

9. Hugo (2011/7.5)

Tidak ada yang tahu kalau selama ini Hugo Cabret (Asa Butterfield) dan ayahnya (Jude Law) tinggal di relung-relung di balik dinding stasiun kereta api kota Paris, tahun 1931. Untuk sementara waktu semuanya berjalan baik-baik saja, hingga situasi berubah menjadi buruk ketika ayah Hugo menghilang.

Kini Hugo harus menjalani hidupnya seorang diri dengan robot rakitan dan misteri yang diwariskan sang ayah. Hugo kemudian mulai mencuri beberapa komponen mekanik dari sebuah toko mainan milik Georges (Ben Kingsley) untuk menyelesaikan sebuah robot yang pernah ia kerjakan bersama ayahnya.

10. We Bought a Zoo (2011/7.1)

Benjamin Mee (Matt Damon) adalah seorang petualang yang mencintai pekerjaannya sebagai reporter. Namun, profesi tersebut harus berhenti setelah sang istri, Katherine (Stephanie Szostak) meninggal. Ben tampak tidak siap dengan status ayah sekaligus ibu bagi kedua anaknya, Dylan (Colin Ford) dan Rosie (Maggie E. Jones).

Suatu ketika, keluarga ini memutuskan untuk pindah rumah. Dari sekian banyak rumah yang ditawarkan, Rosie memilih sebuah rumah idaman yang ternyata adalah bagian dari kebun binatang yang hanya akan dijual beserta seluruh isinya. Mau tak mau, Ben, dibantu Kelly (Scralett Johansson) mulai belajar mengelola dan berusaha menghidupkan kembali kebun binatang itu. (*/msl)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai